# Pengantar Pengajuan Proposal BPDP 2026

- Link: https://envigo-skd.com/pengantar-pengajuan-proposal-bpdp-2026/
- Published: 2026-09-21T16:05:41+07:00
- Author: admine

##  Pengantar Pengajuan Proposal BPDP 2026

 **Kepada Yth.**
 **Panitia / Tim Evaluator Call for Proposal** Program Pangan dan
Hilirisasi Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) Tahun 2026

 Dengan hormat,
 Dalam rangka mendukung penguatan ketahanan pangan nasional, optimalisasi
lahan kering, serta percepatan hilirisasi komoditas perkebunan berbasis ekonomi 
sirkular, **Koperasi Sekunder EnviGo** bersama konsorsium mitra strategis mengajukan
proposal program unggulan bertajuk:

 “Pengembangan Kakao Rakyat Terintegrasi Nilam dan Hilirisasi Berbasis Koperasi 
di Kabupaten Bandung”

 Proposal ini menyajikan strategi komprehensif penataan **56,10 hektare** lahan 
kering non-sawah di Kecamatan Pameungpeuk dan sekitarnya. Melalui integrasi tanaman
kakao sebagai komoditas utama dan nilam sebagai tanaman tumpangsari (penghasil _interim
income_ bagi petani), program ini diperkuat oleh intervensi nutrisi organik dari
TPST EnviGo (kompos nano, pupuk nano, biochar) serta teknologi pengolahan terpadu
dari mitra strategis kami, **PT Cipta Visi Sinar Kencana**.

 Dukungan rekayasa teknologi mencakup unit pengering terna nilam, pencacah, distilasi,
hingga mesin mixer dan ekstruder untuk pengolahan residu (ampas nilam) menjadi arang
bio, briket, dan arang aromaterapi. Dengan demikian, kami menghadirkan ekosistem
agribisnis koperasi modern dari hulu hingga hilir yang siap merealisasikan komoditas
bernilai tambah, berkelanjutan, dan berdaya saing ekspor.

 Demikian dokumen proposal ini kami susun dengan penuh tanggung jawab. Besar harapan
kami agar program ini dapat disetujui dan didukung penuh melalui Program BPDP Tahun
2026.

 **Koperasi Sekunder EnviGo**
 Tim Pengusul Program Hilirisasi Perkebunan 2026

---

 Call for Proposal BPDP Tahun 2026

# PROPOSAL PENGAJUAN

## PENGEMBANGAN KAKAO RAKYAT TERINTEGRASI NILAM DAN HILIRISASI BERBASIS KOPERASI

 “Pemanfaatan Lahan Kering melalui Tumpangsari Kakao–Nilam, Ekonomi Sirkular, dan
Hilirisasi Hasil Perkebunan Berbasis Koperasi Sekunder”

 |  Pengusul Utama: |  Koperasi Sekunder EnviGo |  
 |  Mitra Pelaksana & Strategis: |  Koperasi primer anggota EnviGo, Koperasi Desa Merah Putih (KDMP), Petani Peserta, Pengelola TPST EnviGo, Ahli Pertanian, **PT Cipta Visi Sinar Kencana** (Mitra Teknologi & Mesin), Mitra Offtaker, serta Perusahaan Pengolah & Peningkat Mutu Minyak Nilam. |  
 |  Lokasi Program: |  Kecamatan Pameungpeuk dan wilayah sekitar Kabupaten Bandung, Jawa Barat. |  
 |  Luas Indikatif Lahan: |  **56,10 Hektare** (Lahan Pertanian Kering Non-Sawah). |

## I. IDENTITAS PROGRAM

 1. **Nama Program:** Pengembangan Kakao Rakyat Terintegrasi Nilam dan Hilirisasi Berbasis
    Koperasi di Kecamatan Pameungpeuk dan Sekitarnya, Kabupaten Bandung.
 2. **Pengusul:** Koperasi Sekunder EnviGo (EnviGo SKD).
 3. **Lokasi Pelaksanaan:** Kecamatan Pameungpeuk dan kawasan penyangga di Kabupaten
    Bandung, Jawa Barat.
 4. **Luas Indikatif:** 56,10 hektare lahan kering non-sawah milik/dikelola petani 
    anggota koperasi.
 5. **Komoditas Utama:** Kakao Rakyat (Perkebunan Jangka Jangka Panjang).
 6. **Komoditas Tumpangsari:** Nilam (_Pogostemon cablin Benth._) (Penyedia Pendapatan
    Antara).
 7. **Model Pengembangan:** Konsorsium Koperasi, Tumpangsari Kakao-Nilam, Ekonomi Sirkular
    TPST, Teknologi Pengolahan Hilir, dan Offtake Kepastian Pasar.
 8. **Mitra Teknologi Utama:** PT Cipta Visi Sinar Kencana (Penyedia Mesin Pengering
    Terna, Pencacah, Distilasi, Mixer, dan Ekstruder).

## II. RINGKASAN EKSEKUTIF

 Koperasi Sekunder EnviGo mengajukan program pengembangan kakao rakyat terintegrasi
dengan tanaman tumpangsari nilam (_Pogostemon cablin Benth._) pada lahan kering 
pertanian non-sawah seluas indikatif **56,10 hektare** di Kecamatan Pameungpeuk 
dan wilayah sekitar Kabupaten Bandung. Kakao dikembangkan sebagai komoditas utama
program, sedangkan nilam dipilih sebagai tanaman tumpangsari karena EnviGo telah
memiliki ekosistem budidaya, jaringan petani, unit penyulingan, serta akses terhadap
pengolahan dan pemasaran minyak nilam.

 Model tumpangsari ini dirancang untuk meningkatkan produktivitas lahan kering sekaligus
memberikan sumber pendapatan antara bagi petani selama tanaman kakao belum menghasilkan
secara optimal. Program ini menerapkan pendekatan ekonomi sirkular secara komprehensif.
EnviGo memiliki Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) yang menghasilkan kompos
nano, pupuk nano, dan biochar. Input organik ini akan diaplikasikan secara terukur
berdasarkan analisis tanah dan rekomendasi ahli pertanian.

 Program ini diperkuat oleh kemitraan strategis antara EnviGo dan **PT Cipta Visi
Sinar Kencana** sebagai penyedia dukungan teknologis dan rekayasa mesin pengolahan
nilam secara terpadu. Teknologi yang didukung meliputi:

 * **Pengering Terna Nilam:** Mengeringkan daun dan batang nilam secara terkendali.
 * **Pencacah Nilam Kering:** Menyeragamkan ukuran bahan baku sebelum masuk ketel.
 * **Unit Distilasi Nilam:** Menyuling terna menjadi minyak nilam mentah (_raw patchouli
   oil_).
 * **Mixer & Ekstruder Ampas Nilam:** Memadatkan dan mengolah ampas distilasi menjadi
   arang bio (biochar), arang briket, dan arang aromaterapi.

 Melalui fasilitas tersebut, minyak nilam mentah hasil penyulingan akan diteruskan
kepada mitra pengolah untuk ditingkatkan mutunya (_upgrading/refining_) menjadi 
_purified and upgraded patchouli oil_ yang memenuhi standar industri dan ekspor.
Sementara itu, ampas penyulingan diolah menjadi produk turunan bernilai ekonomi 
tinggi. Untuk komoditas kakao, PT Cipta Visi Sinar Kencana juga mendukung penyediaan
mesin pengering, pengupas, pemisah kulit/nib, dan penepung untuk mendukung hilirisasi
kakao.

 EnviGo bertindak sebagai orkestrator rantai nilai: petani fokus pada budidaya, 
TPST menyediakan nutrisi tanah, unit penyulingan dan mitra teknologi mengolah hasil,
serta mitra pengolah lanjutan dan offtaker menyerap produk akhir secara berkelanjutan.

## III. LATAR BELAKANG

 Lahan kering pertanian non-sawah di wilayah Kecamatan Pameungpeuk dan sekitar Kabupaten
Bandung memiliki potensi besar untuk dikembangkan menjadi kawasan agribisnis perkebunan
yang produktif. Namun, pemanfaatannya saat ini terkendala oleh berbagai kendala 
struktural, antara lain:

 * Rendahnya kandungan bahan organik tanah dan penurunan kesuburan.
 * Ketersediaan air yang fluktuatif dan tergantung musim.
 * Keterbatasan modal, sarana produksi, dan teknologi pengolahan pascapanen.
 * Lemahnya integrasi antara petani kecil dengan industri pengolahan serta pasar
   kepastian (offtaker).

 Pengembangan kakao rakyat yang dipadukan dengan tumpangsari nilam menjadi jawaban
atas tantangan tersebut. Kakao menjadi investasi jangka menengah-panjang yang memberikan
kestabilan ekonomi kawasan, sedangkan nilam memberikan kepastian arus kas harian/
bulanan bagi petani melalui masa panen yang lebih cepat (tiap 3-4 bulan).

 EnviGo memiliki keunggulan kompetitif karena telah membangun ekosistem terintegrasi
yang mencakup jaringan petani, TPST mandiri penghasil nutrisi tanah nano, unit penyulingan,
serta kemitraan teknologi bersama **PT Cipta Visi Sinar Kencana**. Pengalaman dan
kesiapan infrastruktur ini menjadikan program bukan sekadar wacana penanaman, melainkan
pembangunan rantai nilai terpadu dari hulu ke hilir.

## IV. DASAR PENGAJUAN PROGRAM

Proposal ini disusun berdasarkan:

 1. Pengumuman Call for Proposal Program Pangan dan Hilirisasi BPDP Tahun 2026.
 2. Potensi pengembangan lahan kering non-sawah seluas 56,10 Ha di Kabupaten Bandung.
 3. Kapasitas kelembagaan Koperasi Sekunder EnviGo dan Koperasi Desa Merah Putih (KDMP).
 4. Inovasi ekonomi sirkular TPST EnviGo penghasil kompos nano, pupuk nano, dan biochar.
 5. Kemitraan teknologi dengan PT Cipta Visi Sinar Kencana dalam rekayasa alat pengolahan
    kakao dan nilam.
 6. Jaminan pasar dari calon offtaker dan industri pengolahan minyak atsiri serta kakao.

## V. PROFIL PENGUSUL DAN KAPASITAS PELAKSANA

### 5.1 Koperasi Sekunder EnviGo

 EnviGo bertindak sebagai koperasi sekunder yang mengonsolidasikan koperasi-koperasi
primer, kelompok tani, unit pengolahan, dan mitra bisnis. EnviGo bertanggung jawab
atas manajemen program, pengawasan standar operasional (SOP), kontrol kualitas, 
pengolahan, dan hubungan pasar.

### 5.2 TPST EnviGo

 Fasilitas Pengolahan Sampah Terpadu yang mengolah sampah organik menjadi input 
pertanian bernilai tinggi meliputi Compost Nano, Liquid/Powder Fertilizer Nano, 
dan Biochar pembenah tanah.

### 5.3 PT Cipta Visi Sinar Kencana (Mitra Teknologi Strategis)

 Mitra rekayasa teknologi yang menyediakan seluruh rangkaian permesinan modern:

 * **Sektor Nilam:** Mesin Pengering Terna (daun & batang), Mesin Pencacah Nilam
   Kering, Ketel Distilasi Modern, Mixer Adonan Ampas, dan Mesin Ekstruder Briket/
   Biochar.
 * **Sektor Kakao:** Mesin Pengering Biji Kakao, Mesin Pengupas/Pemisah Kulit & 
   Nib, Mesin Penepung, dan Fasilitas Hilirisasi Bubuk Kakao.

### 5.4 Mitra Pengolah Minyak & Offtaker

 Perusahaan mitra yang memiliki fasilitas laboratorium, pemurnian (_refining_), 
pemisahan logam (_iron-free treatment_), dan fraksinasi untuk menyerap produk minyak
nilam dan kakao sesuai standar industri nasional maupun ekspor.

## VI. NAMA, TEMA, DAN TUJUAN PROGRAM

**Nama Program:** Pengembangan Kakao Rakyat Terintegrasi Nilam dan Hilirisasi Berbasis
Koperasi di Kabupaten Bandung.

**Tema Program:** Pemanfaatan Lahan Kering melalui Tumpangsari Kakao–Nilam, Ekonomi
Sirkular, dan Hilirisasi Hasil Perkebunan Berbasis Koperasi.

### Tujuan Program:

 * Mengembangkan 56,10 Ha lahan kering menjadi kawasan perkebunan kakao dan nilam
   yang produktif.
 * Meningkatkan pendapatan harian/berkala petani melalui budidaya dan pemrosesan
   nilam sebelum kakao berproduksi penuh.
 * Memperbaiki kesuburan tanah menggunakan kompos nano, pupuk nano, dan biochar 
   dari TPST.
 * Membangun unit hilirisasi minyak nilam terpadu dan olahan kakao bernilai tambah
   tinggi.
 * Mengolah 100% ampas penyulingan nilam menjadi produk komersial (biochar, briket,
   dan aromaterapi) tanpa menyisakan limbah (_zero waste_).
 * Memperkuat kelembagaan koperasi sebagai agregator rantai pasok agribisnis rakyat.

## VII. LOKASI DAN SASARAN PROGRAM

  |  Parameter |  Rincian Keterangan |  
   |  Lokasi Utama |  Kecamatan Pameungpeuk dan wilayah sekitarnya, Kabupaten Bandung, Jawa Barat. |  
 |  Karakteristik Lahan |  Lahan kering pertanian non-sawah seluas 56,10 Hektare. |  
 |  Komoditas Bertingkat |  Kakao (Utama/Jangka Panjang), Nilam (Tumpangsari/Jangka Pendek-Menengah). |  
 |  Sasaran Penerima Manfaat |  Petani anggota koperasi primer EnviGo, Anggota KDMP, pemuda desa, tenaga kerja lokal, dan pengurus unit usaha koperasi. |

## VIII. MODEL TEKNIS TUMPANGSARI KAKAO–NILAM

 Model tumpangsari diatur secara presisi berdasarkan analisis topografi dan pencahayaan:

 * **Pengaturan Jarak Tanam:** Kakao ditanam dengan jarak standar (misal 3m x 3m),
   sedangkan nilam ditanam pada lorong antarbarisan kakao dengan kerapatan yang 
   disesuaikan agar tidak mengganggu perakaran kakao.
 * **Manfaat Kakao:** Berfungsi sebagai tanaman utama penghasil biji kakao berkualitas
   untuk industri makanan/minuman dan sebagai penyeimbang ekosistem perkebunan.
 * **Manfaat Nilam:** Menutup tanah (mencegah erosi lorong), menekan gulma, serta
   memberikan hasil panen berkala setiap 3-4 bulan sekali.
 * **Pengelolaan Nutrisi:** Kebutuhan hara kedua tanaman dipenuhi dari pengaplikasian
   kompos nano dan biochar TPST yang mengoptimalkan retensi air pada lahan kering.

## IX. SISTEM EKONOMI SIRKULAR

 Sampah Organik → TPST EnviGo → Kompos Nano / Biochar → Perkebunan Kakao & Nilam
→ Panen → Penyulingan & Pengolahan → Produk Utama + Residunya → Diolah Kembali Jadi
Briket/Aromaterapi

 Sistem ini menjamin tidak ada residu organik yang terbuang secara sia-sia. Sampah
kota/desa diolah TPST menjadi pembenah tanah, sedangkan ampas penyulingan nilam 
dikembalikan menjadi energi alternatif atau arang aromaterapi komersial.

## X. RANTAI NILAI PROGRAM

 1. **Rantai Nilai Kakao:** Input Nutrisi TPST → Penanaman & Pemeliharaan → Panen Buah
    → Fermentasi Biji → Pengeringan Mesin → Penepungan & Hilirisasi → Offtaker Pangan.
 2. **Rantai Nilai Nilam:** Input Nutrisi TPST → Budidaya Tumpangsari → Panen Terna
    → Pengeringan Mesin → Pencacahan → Distilasi Uap → Minyak Nilam Mentah → Pemurnian
    Mitra → Ekspor/Industri.
 3. **Rantai Nilai Residu Nilam:** Ampas Distilasi → Pengeringan → Mixer Pencampuran
    → Ekstruder Briket/Biochar → Arang Bio / Briket / Aromaterapi → Pasar Energi & 
    Agribisnis.

## XI. PENGUATAN MITRA STRATEGIS DAN TEKNOLOGI PENGOLAHAN NILAM

 Koperasi Sekunder EnviGo telah menjalin kemitraan strategis dengan **PT Cipta Visi
Sinar Kencana** sebagai penyedia solusi teknologis dan rekayasa permesinan terpadu.
Dukungan teknologi ini mencakup seluruh tahap pengolahan nilam:

### 1. Teknologi Pengering Terna Nilam

 Mesin pengering terna digunakan untuk mengeringkan daun dan batang nilam secara
cepat dan higienis tanpa mengandalkan cuaca secara mutlak. Pengeringan terkontrol
ini menjaga kadar air ideal, mencegah pembusukan/jamur, serta mempertahankan rendemen
minyak atsiri tetap tinggi.

### 2. Teknologi Pencacah Nilam Kering

 Mesin pencacah digunakan untuk mereduksi ukuran terna nilam kering secara seragam
sebelum dimasukkan ke dalam ketel distilasi. Hal ini meningkatkan kepadatan pengisian
ketel dan mempermudah penetrasi uap air sehingga proses penyulingan lebih cepat 
dan efisien.

### 3. Teknologi Distilasi (Penyulingan) Nilam

 Ketel dan sistem distilasi uap modern didesain untuk menghasilkan minyak nilam 
mentah (_raw patchouli oil_) dengan efisiensi bahan bakar yang optimal dan kualitas
awal yang terstandar.

### 4. Teknologi Pengolahan Residu (Mixer & Ekstruder)

 Untuk mengolah ampas hasil penyulingan, PT Cipta Visi Sinar Kencana menyediakan**
Mixer** khusus untuk mencampur ampas dengan perekat atau bahan tambahan, serta **
Ekstruder** untuk mencetak adonan ampas menjadi produk berkerdensity tinggi seperti
Briket Arang dan Arang Aromaterapi.

## XII. TEKNOLOGI PEMANFAATAN AMPAS NILAM

 Ampas penyulingan nilam memiliki potensi ekonomi besar apabila diolah dengan teknologi
yang tepat. Tiga produk utama yang dikembangkan dari ampas ini meliputi:

#### a. Arang Bio (Biochar)

 Diolah melalui proses karbonisasi. Digunakan kembali sebagai pembenah tanah perkebunan
kakao–nilam untuk meningkatkan retensi air dan kapabilitas tukar kation tanah kering.

#### b. Arang Briket Energi

 Dicampur dalam mixer dan dicetak melalui ekstruder. Menghasilkan briket dengan 
nilai kalor tinggi, bebas emisi racun, dan cocok untuk kebutuhan energi industri/
rumah tangga.

#### c. Arang Aromaterapi

 Memanfaatkan sisa wangi khas nilam yang tersisa pada biomassa. Dibentuk menjadi
kerucut/batangan aromaterapi, dupa herbal, atau pengharum ruangan alami.

## XIII. PENGEMBANGAN HILIRISASI KAKAO

 Dukungan mesin dari PT Cipta Visi Sinar Kencana untuk komoditas kakao difokuskan
pada peningkatan kelas mutu biji kakao rakyat dari bahan mentah menjadi bahan baku
siap pakai industri:

 * **Kotak Fermentasi Terstandar:** Menjamin proses fermentasi sempurna untuk memunculkan
   cita rasa khas kakao.
 * **Mesin Pengering Kakao:** Mengontrol kadar air hingga di bawah 7.5% secara konsisten.
 * **Mesin Desheller / Huller:** Memisahkan kulit biji kakao dengan _nib_ secara
   presisi.
 * **Mesin Penepung & Pengolah Bubuk:** Mengolah nib menjadi bubuk kakao standar
   bahan baku kuliner dan olahan pangan.

## XIV. PEMBAGIAN PERAN PARA PIHAK

  |  Pihak Terkait |  Peran dan Tanggung Jawab Utama |  
   |  EnviGo SKD (Koperasi Sekunder) |  Koordinasi umum, manajemen program, kemitraan off-taker, pengawasan SOP, konsolidasi hasil. |  
 |  Koperasi Primer & KDMP |  Pengorganisasian kelompok tani desa, pendataan lahan 56,10 Ha, mobilisasi petani. |  
 |  Petani Peserta |  Penyediaan lahan, pelaksanaan budidaya tumpangsari, perawatan, dan kegiatan panen. |  
 |  TPST EnviGo |  Memproduksi dan mendistribusikan kompos nano, pupuk nano, dan biochar pembenah tanah. |  
 |  PT Cipta Visi Sinar Kencana |  Penyedia teknologi permesinan: pengering terna, pencacah, distilasi, mixer, dan ekstruder ampas. |  
 |  Mitra Pengolah & Offtaker |  Melakukan pemurnian lanjutan (upgrading) minyak nilam dan menyerap produk jadi sesuai kontrak. |  
 |  Tenaga Ahli Pertanian |  Analisis tanah, formulasi pupuk, bimbingan teknis budidaya, dan supervisi lapangan. |

## XV. TARGET PROGRAM

 * **Target Fisik Lahan:** Terkelolanya 56,10 Ha lahan kering secara produktif berbasis
   konservasi tanah dan air.
 * **Target Produksi:** Terciptanya pasokan biji kakao terfermentasi dan konsistensi
   produksi minyak nilam mentah yang siap masuk tahap _upgrading_.
 * **Target Pengolahan Residu:** Terolahnya 100% ampas penyulingan nilam menjadi
   produk komersial (arang bio, briket, aromaterapi).
 * **Target Kelembagaan:** Terbentuknya sistem rantai pasok berbasis koperasi yang
   transparan dan dapat direplikasi di wilayah lain.

## XVI. RENCANA KEGIATAN TAHPAN PELAKSANAAN

 **Tahap 1: Persiapan & Legalisasi (Bulan 1-2)**
 Sosialisasi, verifikasi lahan 
56,10 Ha, analisis sampel tanah laboratorium, penyusunan SOP tumpangsari, dan finalisasi
perjanjian kerja sama mitra.

 **Tahap 2: Infrastruktur Kebun & Penanaman (Bulan 3-5)**
 Pengadaan bibit unggul
kakao dan nilam, pengolahan tanah dengan kompos nano/biochar TPST, penanaman sistem
tumpangsari, dan pelatihan petani.

 **Tahap 3: Instalasi Teknologi Mesin (Bulan 6-7)**
 Pengadaan dan instalasi mesin
pengering, pencacah, ketel distilasi, mixer, dan ekstruder dari PT Cipta Visi Sinar
Kencana serta uji coba operasional (commissioning).

 **Tahap 4: Panen Nilam & Pengolahan Residu (Bulan 8-12)**
 Panen terna nilam perdana,
pengeringan, pencacahan, distilasi minyak nilam, dan pencetakan briket/biochar dari
ampas distilasi.

 **Tahap 5: Pemeliharaan Kakao & Komersialisasi (Bulan 13+)**
 Pemeliharaan lanjutan
kakao menuju masa panen, pemurnian minyak nilam bersama mitra pengolah, pengiriman
produk ke offtaker, serta evaluasi program.

## XVII. KOMPONEN ANGGARAN BIAYA (RAB)

 Rencana Anggaran Biaya terperinci disusun berdasarkan standar BPDP 2026. Alokasi
pembiayaan mencakup komponen utama:

 1. **Komponen Pra-Budidaya:** Analisis tanah, pemetaan GIS, dan persiapan lahan kering.
 2. **Komponen Sarana Production (Saprodi):** Bibit kakao unggul, bibit nilam, kompos
    nano, pupuk nano, dan biochar TPST.
 3. **Komponen Permesinan (PT Cipta Visi Sinar Kencana):** Pengering terna, pencacah,
    instalasi distilasi, mixer adonan ampas, ekstruder briket, dan permesinan pengolah
    biji kakao.
 4. **Komponen Kelembagaan & Pendampingan:** Pelatihan petani, operasional koperasi,
    pendampingan ahli pertanian, dan pengujian mutu laboratorium.
 5. **Komponen Logistik & Modal Kerja:** Sarana penampungan, pengemasan standar ekspor,
    dan modal kerja pengumpulan hasil panen.

## XVIII. ANALISIS RISIKO DAN MITIGASI

  |  Kategori Risiko |  Strategi Mitigasi Terencana |  
   |  Kekeringan pada Lahan Kering |  Aplikasi biochar TPST untuk meningkatkan kapasitas retensi air tanah dan pembuatan rorak/mulsa. |  
 |  Persaingan Hara Kakao & Nilam |  Pengaturan jarak tanam yang tepat, pemangkasan rutin, dan pemupukan presisi berbasis kompos nano. |  
 |  Variabilitas Mutu Minyak Nilam |  Pengeringan terna terkontrol dan pencacahan seragam dengan mesin PT Cipta Visi Sinar Kencana sebelum penyulingan. |  
 |  Fluktuasi Harga Komoditas Mentah |  Diversifikasi produk (briket/aromaterapi), peningkatan mutu (upgrading), dan perjanjian ikatan harga dengan offtaker. |

## XIX. KEBERLANJUTAN PROGRAM

#### 1. Keberlanjutan Teknis

Penerapan SOP baku, ketersediaan permesinan handal, dan pendampingan ahli pertanian
secara berkelanjutan.

#### 2. Keberlanjutan Ekonomi

Pendapatan berlapis dari minyak nilam, biji kakao, briket arang, dan produk aromaterapi
menjamin arus kas koperasi.

#### 3. Keberlanjutan Kelembagaan

Penguatan posisi tawar petani melalui konsolidasi usaha di Koperasi Sekunder EnviGo
dan KDMP.

#### 4. Keberlanjutan Lingkungan

Pengolahan sampah kota di TPST dan pemanfaatan 100% ampas nilam menciptakan konsep
_zero waste circular economy_.

## XX. MONITORING, EVALUASI, DAN PELAPORAN

 Monitoring dan evaluasi dilaksanakan bertingkat dari level lapangan hingga level
manajemen koperasi sekunder. Pelaporan disusun secara berkala (Bulanan, Triwulanan,
dan Tahunan) serta mencakup parameter pertumbuhan tanaman, rendemen minyak, kualitas
briket, audit keuangan koperasi, dan dampak kesejahteraan petani peserta.

## XXI. PENUTUP

 Program Pengembangan Kakao Rakyat Terintegrasi Nilam dan Hilirisasi Berbasis Koperasi
ini merupakan langkah nyata dalam membangun model agribisnis lahan kering yang modern,
bernilai tambah tinggi, dan ramah lingkungan di Kabupaten Bandung.

 Keunggulan utama program ini terletak pada kolaborasi yang solid: EnviGo mengorkestrasi
ekosistem koperasi, TPST menyediakan nutrisi tanah berbasis sampah organik, **PT
Cipta Visi Sinar Kencana** menyediakan dukungan penuh teknologi permesinan (pengering,
pencacah, distilasi, mixer, dan ekstruder), serta mitra pengolah & offtaker menjamin
penyerapan produk di pasar.

 “Dari lahan kering menjadi kebun kakao dan nilam produktif.
 Dari sampah organik
menjadi nutrisi pembenah tanah. Dari nilam mentah menjadi minyak bermutu tinggi.
Dari ampas distilasi menjadi arang bio, briket, dan aromaterapi. Dari kekuatan koperasi
menciptakan kemandirian ekonomi rakyat.”

 Atas perhatian, kesempatan, dan dukungan yang diberikan oleh Badan Pengelola Dana
Perkebunan (BPDP), kami menyampaikan terima kasih.

### Daftar Dokumen Lampiran Pendukung Proposal:

 * Profil Legalitas EnviGo SKD
 * Profil Koperasi Primer & KDMP
 * Daftar Petani & Maps Lahan 56,10 Ha
 * Hasil Uji Laboratorium Sampel Tanah
 * Profil TPST EnviGo & Uji Pupuk Nano
 * Profil PT Cipta Visi Sinar Kencana
 * Spesifikasi Teknik Mesin Distilasi & Ekstruder
 * Surat Minat / MoU Mitra Offtaker
 * Rincian RAB & Proyeksi Finansial
 * SOP Budidaya & Pengolahan Residu

![](https://envigo-skd.com/wp-content/uploads/WhatsApp-Image-2026-09-21-at-16.26.59-
674x1024.jpeg "WhatsApp Image 2026-09-21 at 16.26.59")
