Pengantar Pengajuan Proposal BPDP 2026

Kepada Yth.
Panitia / Tim Evaluator Call for Proposal
Program Pangan dan Hilirisasi Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) Tahun 2026

Dengan hormat,
Dalam rangka mendukung penguatan ketahanan pangan nasional, optimalisasi lahan kering, serta percepatan hilirisasi komoditas perkebunan berbasis ekonomi sirkular, Koperasi Sekunder EnviGo bersama konsorsium mitra strategis mengajukan proposal program unggulan bertajuk:

“Pengembangan Kakao Rakyat Terintegrasi Nilam dan Hilirisasi Berbasis Koperasi di Kabupaten Bandung”

Proposal ini menyajikan strategi komprehensif penataan 56,10 hektare lahan kering non-sawah di Kecamatan Pameungpeuk dan sekitarnya. Melalui integrasi tanaman kakao sebagai komoditas utama dan nilam sebagai tanaman tumpangsari (penghasil interim income bagi petani), program ini diperkuat oleh intervensi nutrisi organik dari TPST EnviGo (kompos nano, pupuk nano, biochar) serta teknologi pengolahan terpadu dari mitra strategis kami, PT Cipta Visi Sinar Kencana.

Dukungan rekayasa teknologi mencakup unit pengering terna nilam, pencacah, distilasi, hingga mesin mixer dan ekstruder untuk pengolahan residu (ampas nilam) menjadi arang bio, briket, dan arang aromaterapi. Dengan demikian, kami menghadirkan ekosistem agribisnis koperasi modern dari hulu hingga hilir yang siap merealisasikan komoditas bernilai tambah, berkelanjutan, dan berdaya saing ekspor.

Demikian dokumen proposal ini kami susun dengan penuh tanggung jawab. Besar harapan kami agar program ini dapat disetujui dan didukung penuh melalui Program BPDP Tahun 2026.

Koperasi Sekunder EnviGo
Tim Pengusul Program Hilirisasi Perkebunan 2026




Call for Proposal BPDP Tahun 2026

PROPOSAL PENGAJUAN

PENGEMBANGAN KAKAO RAKYAT TERINTEGRASI NILAM DAN HILIRISASI BERBASIS KOPERASI

“Pemanfaatan Lahan Kering melalui Tumpangsari Kakao–Nilam, Ekonomi Sirkular, dan Hilirisasi Hasil Perkebunan Berbasis Koperasi Sekunder”

Pengusul Utama: Koperasi Sekunder EnviGo
Mitra Pelaksana & Strategis: Koperasi primer anggota EnviGo, Koperasi Desa Merah Putih (KDMP), Petani Peserta, Pengelola TPST EnviGo, Ahli Pertanian, PT Cipta Visi Sinar Kencana (Mitra Teknologi & Mesin), Mitra Offtaker, serta Perusahaan Pengolah & Peningkat Mutu Minyak Nilam.
Lokasi Program: Kecamatan Pameungpeuk dan wilayah sekitar Kabupaten Bandung, Jawa Barat.
Luas Indikatif Lahan: 56,10 Hektare (Lahan Pertanian Kering Non-Sawah).

I. IDENTITAS PROGRAM

  1. Nama Program: Pengembangan Kakao Rakyat Terintegrasi Nilam dan Hilirisasi Berbasis Koperasi di Kecamatan Pameungpeuk dan Sekitarnya, Kabupaten Bandung.
  2. Pengusul: Koperasi Sekunder EnviGo (EnviGo SKD).
  3. Lokasi Pelaksanaan: Kecamatan Pameungpeuk dan kawasan penyangga di Kabupaten Bandung, Jawa Barat.
  4. Luas Indikatif: 56,10 hektare lahan kering non-sawah milik/dikelola petani anggota koperasi.
  5. Komoditas Utama: Kakao Rakyat (Perkebunan Jangka Jangka Panjang).
  6. Komoditas Tumpangsari: Nilam (Pogostemon cablin Benth.) (Penyedia Pendapatan Antara).
  7. Model Pengembangan: Konsorsium Koperasi, Tumpangsari Kakao-Nilam, Ekonomi Sirkular TPST, Teknologi Pengolahan Hilir, dan Offtake Kepastian Pasar.
  8. Mitra Teknologi Utama: PT Cipta Visi Sinar Kencana (Penyedia Mesin Pengering Terna, Pencacah, Distilasi, Mixer, dan Ekstruder).

II. RINGKASAN EKSEKUTIF

Koperasi Sekunder EnviGo mengajukan program pengembangan kakao rakyat terintegrasi dengan tanaman tumpangsari nilam (Pogostemon cablin Benth.) pada lahan kering pertanian non-sawah seluas indikatif 56,10 hektare di Kecamatan Pameungpeuk dan wilayah sekitar Kabupaten Bandung. Kakao dikembangkan sebagai komoditas utama program, sedangkan nilam dipilih sebagai tanaman tumpangsari karena EnviGo telah memiliki ekosistem budidaya, jaringan petani, unit penyulingan, serta akses terhadap pengolahan dan pemasaran minyak nilam.

Model tumpangsari ini dirancang untuk meningkatkan produktivitas lahan kering sekaligus memberikan sumber pendapatan antara bagi petani selama tanaman kakao belum menghasilkan secara optimal. Program ini menerapkan pendekatan ekonomi sirkular secara komprehensif. EnviGo memiliki Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) yang menghasilkan kompos nano, pupuk nano, dan biochar. Input organik ini akan diaplikasikan secara terukur berdasarkan analisis tanah dan rekomendasi ahli pertanian.

Program ini diperkuat oleh kemitraan strategis antara EnviGo dan PT Cipta Visi Sinar Kencana sebagai penyedia dukungan teknologis dan rekayasa mesin pengolahan nilam secara terpadu. Teknologi yang didukung meliputi:

  • Pengering Terna Nilam: Mengeringkan daun dan batang nilam secara terkendali.
  • Pencacah Nilam Kering: Menyeragamkan ukuran bahan baku sebelum masuk ketel.
  • Unit Distilasi Nilam: Menyuling terna menjadi minyak nilam mentah (raw patchouli oil).
  • Mixer & Ekstruder Ampas Nilam: Memadatkan dan mengolah ampas distilasi menjadi arang bio (biochar), arang briket, dan arang aromaterapi.

Melalui fasilitas tersebut, minyak nilam mentah hasil penyulingan akan diteruskan kepada mitra pengolah untuk ditingkatkan mutunya (upgrading/refining) menjadi purified and upgraded patchouli oil yang memenuhi standar industri dan ekspor. Sementara itu, ampas penyulingan diolah menjadi produk turunan bernilai ekonomi tinggi. Untuk komoditas kakao, PT Cipta Visi Sinar Kencana juga mendukung penyediaan mesin pengering, pengupas, pemisah kulit/nib, dan penepung untuk mendukung hilirisasi kakao.

EnviGo bertindak sebagai orkestrator rantai nilai: petani fokus pada budidaya, TPST menyediakan nutrisi tanah, unit penyulingan dan mitra teknologi mengolah hasil, serta mitra pengolah lanjutan dan offtaker menyerap produk akhir secara berkelanjutan.

III. LATAR BELAKANG

Lahan kering pertanian non-sawah di wilayah Kecamatan Pameungpeuk dan sekitar Kabupaten Bandung memiliki potensi besar untuk dikembangkan menjadi kawasan agribisnis perkebunan yang produktif. Namun, pemanfaatannya saat ini terkendala oleh berbagai kendala struktural, antara lain:

  • Rendahnya kandungan bahan organik tanah dan penurunan kesuburan.
  • Ketersediaan air yang fluktuatif dan tergantung musim.
  • Keterbatasan modal, sarana produksi, dan teknologi pengolahan pascapanen.
  • Lemahnya integrasi antara petani kecil dengan industri pengolahan serta pasar kepastian (offtaker).

Pengembangan kakao rakyat yang dipadukan dengan tumpangsari nilam menjadi jawaban atas tantangan tersebut. Kakao menjadi investasi jangka menengah-panjang yang memberikan kestabilan ekonomi kawasan, sedangkan nilam memberikan kepastian arus kas harian/bulanan bagi petani melalui masa panen yang lebih cepat (tiap 3-4 bulan).

EnviGo memiliki keunggulan kompetitif karena telah membangun ekosistem terintegrasi yang mencakup jaringan petani, TPST mandiri penghasil nutrisi tanah nano, unit penyulingan, serta kemitraan teknologi bersama PT Cipta Visi Sinar Kencana. Pengalaman dan kesiapan infrastruktur ini menjadikan program bukan sekadar wacana penanaman, melainkan pembangunan rantai nilai terpadu dari hulu ke hilir.

IV. DASAR PENGAJUAN PROGRAM

Proposal ini disusun berdasarkan:

  1. Pengumuman Call for Proposal Program Pangan dan Hilirisasi BPDP Tahun 2026.
  2. Potensi pengembangan lahan kering non-sawah seluas 56,10 Ha di Kabupaten Bandung.
  3. Kapasitas kelembagaan Koperasi Sekunder EnviGo dan Koperasi Desa Merah Putih (KDMP).
  4. Inovasi ekonomi sirkular TPST EnviGo penghasil kompos nano, pupuk nano, dan biochar.
  5. Kemitraan teknologi dengan PT Cipta Visi Sinar Kencana dalam rekayasa alat pengolahan kakao dan nilam.
  6. Jaminan pasar dari calon offtaker dan industri pengolahan minyak atsiri serta kakao.

V. PROFIL PENGUSUL DAN KAPASITAS PELAKSANA

5.1 Koperasi Sekunder EnviGo

EnviGo bertindak sebagai koperasi sekunder yang mengonsolidasikan koperasi-koperasi primer, kelompok tani, unit pengolahan, dan mitra bisnis. EnviGo bertanggung jawab atas manajemen program, pengawasan standar operasional (SOP), kontrol kualitas, pengolahan, dan hubungan pasar.

5.2 TPST EnviGo

Fasilitas Pengolahan Sampah Terpadu yang mengolah sampah organik menjadi input pertanian bernilai tinggi meliputi Compost Nano, Liquid/Powder Fertilizer Nano, dan Biochar pembenah tanah.

5.3 PT Cipta Visi Sinar Kencana (Mitra Teknologi Strategis)

Mitra rekayasa teknologi yang menyediakan seluruh rangkaian permesinan modern:

  • Sektor Nilam: Mesin Pengering Terna (daun & batang), Mesin Pencacah Nilam Kering, Ketel Distilasi Modern, Mixer Adonan Ampas, dan Mesin Ekstruder Briket/Biochar.
  • Sektor Kakao: Mesin Pengering Biji Kakao, Mesin Pengupas/Pemisah Kulit & Nib, Mesin Penepung, dan Fasilitas Hilirisasi Bubuk Kakao.

5.4 Mitra Pengolah Minyak & Offtaker

Perusahaan mitra yang memiliki fasilitas laboratorium, pemurnian (refining), pemisahan logam (iron-free treatment), dan fraksinasi untuk menyerap produk minyak nilam dan kakao sesuai standar industri nasional maupun ekspor.

VI. NAMA, TEMA, DAN TUJUAN PROGRAM

Nama Program: Pengembangan Kakao Rakyat Terintegrasi Nilam dan Hilirisasi Berbasis Koperasi di Kabupaten Bandung.

Tema Program: Pemanfaatan Lahan Kering melalui Tumpangsari Kakao–Nilam, Ekonomi Sirkular, dan Hilirisasi Hasil Perkebunan Berbasis Koperasi.

Tujuan Program:

  • Mengembangkan 56,10 Ha lahan kering menjadi kawasan perkebunan kakao dan nilam yang produktif.
  • Meningkatkan pendapatan harian/berkala petani melalui budidaya dan pemrosesan nilam sebelum kakao berproduksi penuh.
  • Memperbaiki kesuburan tanah menggunakan kompos nano, pupuk nano, dan biochar dari TPST.
  • Membangun unit hilirisasi minyak nilam terpadu dan olahan kakao bernilai tambah tinggi.
  • Mengolah 100% ampas penyulingan nilam menjadi produk komersial (biochar, briket, dan aromaterapi) tanpa menyisakan limbah (zero waste).
  • Memperkuat kelembagaan koperasi sebagai agregator rantai pasok agribisnis rakyat.

VII. LOKASI DAN SASARAN PROGRAM

Parameter Rincian Keterangan
Lokasi Utama Kecamatan Pameungpeuk dan wilayah sekitarnya, Kabupaten Bandung, Jawa Barat.
Karakteristik Lahan Lahan kering pertanian non-sawah seluas 56,10 Hektare.
Komoditas Bertingkat Kakao (Utama/Jangka Panjang), Nilam (Tumpangsari/Jangka Pendek-Menengah).
Sasaran Penerima Manfaat Petani anggota koperasi primer EnviGo, Anggota KDMP, pemuda desa, tenaga kerja lokal, dan pengurus unit usaha koperasi.

VIII. MODEL TEKNIS TUMPANGSARI KAKAO–NILAM

Model tumpangsari diatur secara presisi berdasarkan analisis topografi dan pencahayaan:

  • Pengaturan Jarak Tanam: Kakao ditanam dengan jarak standar (misal 3m x 3m), sedangkan nilam ditanam pada lorong antarbarisan kakao dengan kerapatan yang disesuaikan agar tidak mengganggu perakaran kakao.
  • Manfaat Kakao: Berfungsi sebagai tanaman utama penghasil biji kakao berkualitas untuk industri makanan/minuman dan sebagai penyeimbang ekosistem perkebunan.
  • Manfaat Nilam: Menutup tanah (mencegah erosi lorong), menekan gulma, serta memberikan hasil panen berkala setiap 3-4 bulan sekali.
  • Pengelolaan Nutrisi: Kebutuhan hara kedua tanaman dipenuhi dari pengaplikasian kompos nano dan biochar TPST yang mengoptimalkan retensi air pada lahan kering.

IX. SISTEM EKONOMI SIRKULAR

Sampah Organik → TPST EnviGo → Kompos Nano / Biochar → Perkebunan Kakao & Nilam → Panen → Penyulingan & Pengolahan → Produk Utama + Residunya → Diolah Kembali Jadi Briket/Aromaterapi

Sistem ini menjamin tidak ada residu organik yang terbuang secara sia-sia. Sampah kota/desa diolah TPST menjadi pembenah tanah, sedangkan ampas penyulingan nilam dikembalikan menjadi energi alternatif atau arang aromaterapi komersial.

X. RANTAI NILAI PROGRAM

  1. Rantai Nilai Kakao: Input Nutrisi TPST → Penanaman & Pemeliharaan → Panen Buah → Fermentasi Biji → Pengeringan Mesin → Penepungan & Hilirisasi → Offtaker Pangan.
  2. Rantai Nilai Nilam: Input Nutrisi TPST → Budidaya Tumpangsari → Panen Terna → Pengeringan Mesin → Pencacahan → Distilasi Uap → Minyak Nilam Mentah → Pemurnian Mitra → Ekspor/Industri.
  3. Rantai Nilai Residu Nilam: Ampas Distilasi → Pengeringan → Mixer Pencampuran → Ekstruder Briket/Biochar → Arang Bio / Briket / Aromaterapi → Pasar Energi & Agribisnis.

XI. PENGUATAN MITRA STRATEGIS DAN TEKNOLOGI PENGOLAHAN NILAM

Koperasi Sekunder EnviGo telah menjalin kemitraan strategis dengan PT Cipta Visi Sinar Kencana sebagai penyedia solusi teknologis dan rekayasa permesinan terpadu. Dukungan teknologi ini mencakup seluruh tahap pengolahan nilam:

1. Teknologi Pengering Terna Nilam

Mesin pengering terna digunakan untuk mengeringkan daun dan batang nilam secara cepat dan higienis tanpa mengandalkan cuaca secara mutlak. Pengeringan terkontrol ini menjaga kadar air ideal, mencegah pembusukan/jamur, serta mempertahankan rendemen minyak atsiri tetap tinggi.

2. Teknologi Pencacah Nilam Kering

Mesin pencacah digunakan untuk mereduksi ukuran terna nilam kering secara seragam sebelum dimasukkan ke dalam ketel distilasi. Hal ini meningkatkan kepadatan pengisian ketel dan mempermudah penetrasi uap air sehingga proses penyulingan lebih cepat dan efisien.

3. Teknologi Distilasi (Penyulingan) Nilam

Ketel dan sistem distilasi uap modern didesain untuk menghasilkan minyak nilam mentah (raw patchouli oil) dengan efisiensi bahan bakar yang optimal dan kualitas awal yang terstandar.

4. Teknologi Pengolahan Residu (Mixer & Ekstruder)

Untuk mengolah ampas hasil penyulingan, PT Cipta Visi Sinar Kencana menyediakan Mixer khusus untuk mencampur ampas dengan perekat atau bahan tambahan, serta Ekstruder untuk mencetak adonan ampas menjadi produk berkerdensity tinggi seperti Briket Arang dan Arang Aromaterapi.

XII. TEKNOLOGI PEMANFAATAN AMPAS NILAM

Ampas penyulingan nilam memiliki potensi ekonomi besar apabila diolah dengan teknologi yang tepat. Tiga produk utama yang dikembangkan dari ampas ini meliputi:

a. Arang Bio (Biochar)

Diolah melalui proses karbonisasi. Digunakan kembali sebagai pembenah tanah perkebunan kakao–nilam untuk meningkatkan retensi air dan kapabilitas tukar kation tanah kering.

b. Arang Briket Energi

Dicampur dalam mixer dan dicetak melalui ekstruder. Menghasilkan briket dengan nilai kalor tinggi, bebas emisi racun, dan cocok untuk kebutuhan energi industri/rumah tangga.

c. Arang Aromaterapi

Memanfaatkan sisa wangi khas nilam yang tersisa pada biomassa. Dibentuk menjadi kerucut/batangan aromaterapi, dupa herbal, atau pengharum ruangan alami.

XIII. PENGEMBANGAN HILIRISASI KAKAO

Dukungan mesin dari PT Cipta Visi Sinar Kencana untuk komoditas kakao difokuskan pada peningkatan kelas mutu biji kakao rakyat dari bahan mentah menjadi bahan baku siap pakai industri:

  • Kotak Fermentasi Terstandar: Menjamin proses fermentasi sempurna untuk memunculkan cita rasa khas kakao.
  • Mesin Pengering Kakao: Mengontrol kadar air hingga di bawah 7.5% secara konsisten.
  • Mesin Desheller / Huller: Memisahkan kulit biji kakao dengan nib secara presisi.
  • Mesin Penepung & Pengolah Bubuk: Mengolah nib menjadi bubuk kakao standar bahan baku kuliner dan olahan pangan.

XIV. PEMBAGIAN PERAN PARA PIHAK

Pihak Terkait Peran dan Tanggung Jawab Utama
EnviGo SKD (Koperasi Sekunder) Koordinasi umum, manajemen program, kemitraan off-taker, pengawasan SOP, konsolidasi hasil.
Koperasi Primer & KDMP Pengorganisasian kelompok tani desa, pendataan lahan 56,10 Ha, mobilisasi petani.
Petani Peserta Penyediaan lahan, pelaksanaan budidaya tumpangsari, perawatan, dan kegiatan panen.
TPST EnviGo Memproduksi dan mendistribusikan kompos nano, pupuk nano, dan biochar pembenah tanah.
PT Cipta Visi Sinar Kencana Penyedia teknologi permesinan: pengering terna, pencacah, distilasi, mixer, dan ekstruder ampas.
Mitra Pengolah & Offtaker Melakukan pemurnian lanjutan (upgrading) minyak nilam dan menyerap produk jadi sesuai kontrak.
Tenaga Ahli Pertanian Analisis tanah, formulasi pupuk, bimbingan teknis budidaya, dan supervisi lapangan.

XV. TARGET PROGRAM

  • Target Fisik Lahan: Terkelolanya 56,10 Ha lahan kering secara produktif berbasis konservasi tanah dan air.
  • Target Produksi: Terciptanya pasokan biji kakao terfermentasi dan konsistensi produksi minyak nilam mentah yang siap masuk tahap upgrading.
  • Target Pengolahan Residu: Terolahnya 100% ampas penyulingan nilam menjadi produk komersial (arang bio, briket, aromaterapi).
  • Target Kelembagaan: Terbentuknya sistem rantai pasok berbasis koperasi yang transparan dan dapat direplikasi di wilayah lain.

XVI. RENCANA KEGIATAN TAHPAN PELAKSANAAN

Tahap 1: Persiapan & Legalisasi (Bulan 1-2)
Sosialisasi, verifikasi lahan 56,10 Ha, analisis sampel tanah laboratorium, penyusunan SOP tumpangsari, dan finalisasi perjanjian kerja sama mitra.
Tahap 2: Infrastruktur Kebun & Penanaman (Bulan 3-5)
Pengadaan bibit unggul kakao dan nilam, pengolahan tanah dengan kompos nano/biochar TPST, penanaman sistem tumpangsari, dan pelatihan petani.
Tahap 3: Instalasi Teknologi Mesin (Bulan 6-7)
Pengadaan dan instalasi mesin pengering, pencacah, ketel distilasi, mixer, dan ekstruder dari PT Cipta Visi Sinar Kencana serta uji coba operasional (commissioning).
Tahap 4: Panen Nilam & Pengolahan Residu (Bulan 8-12)
Panen terna nilam perdana, pengeringan, pencacahan, distilasi minyak nilam, dan pencetakan briket/biochar dari ampas distilasi.
Tahap 5: Pemeliharaan Kakao & Komersialisasi (Bulan 13+)
Pemeliharaan lanjutan kakao menuju masa panen, pemurnian minyak nilam bersama mitra pengolah, pengiriman produk ke offtaker, serta evaluasi program.

XVII. KOMPONEN ANGGARAN BIAYA (RAB)

Rencana Anggaran Biaya terperinci disusun berdasarkan standar BPDP 2026. Alokasi pembiayaan mencakup komponen utama:

  1. Komponen Pra-Budidaya: Analisis tanah, pemetaan GIS, dan persiapan lahan kering.
  2. Komponen Sarana Production (Saprodi): Bibit kakao unggul, bibit nilam, kompos nano, pupuk nano, dan biochar TPST.
  3. Komponen Permesinan (PT Cipta Visi Sinar Kencana): Pengering terna, pencacah, instalasi distilasi, mixer adonan ampas, ekstruder briket, dan permesinan pengolah biji kakao.
  4. Komponen Kelembagaan & Pendampingan: Pelatihan petani, operasional koperasi, pendampingan ahli pertanian, dan pengujian mutu laboratorium.
  5. Komponen Logistik & Modal Kerja: Sarana penampungan, pengemasan standar ekspor, dan modal kerja pengumpulan hasil panen.

XVIII. ANALISIS RISIKO DAN MITIGASI

Kategori Risiko Strategi Mitigasi Terencana
Kekeringan pada Lahan Kering Aplikasi biochar TPST untuk meningkatkan kapasitas retensi air tanah dan pembuatan rorak/mulsa.
Persaingan Hara Kakao & Nilam Pengaturan jarak tanam yang tepat, pemangkasan rutin, dan pemupukan presisi berbasis kompos nano.
Variabilitas Mutu Minyak Nilam Pengeringan terna terkontrol dan pencacahan seragam dengan mesin PT Cipta Visi Sinar Kencana sebelum penyulingan.
Fluktuasi Harga Komoditas Mentah Diversifikasi produk (briket/aromaterapi), peningkatan mutu (upgrading), dan perjanjian ikatan harga dengan offtaker.

XIX. KEBERLANJUTAN PROGRAM

1. Keberlanjutan Teknis

Penerapan SOP baku, ketersediaan permesinan handal, dan pendampingan ahli pertanian secara berkelanjutan.

2. Keberlanjutan Ekonomi

Pendapatan berlapis dari minyak nilam, biji kakao, briket arang, dan produk aromaterapi menjamin arus kas koperasi.

3. Keberlanjutan Kelembagaan

Penguatan posisi tawar petani melalui konsolidasi usaha di Koperasi Sekunder EnviGo dan KDMP.

4. Keberlanjutan Lingkungan

Pengolahan sampah kota di TPST dan pemanfaatan 100% ampas nilam menciptakan konsep zero waste circular economy.

XX. MONITORING, EVALUASI, DAN PELAPORAN

Monitoring dan evaluasi dilaksanakan bertingkat dari level lapangan hingga level manajemen koperasi sekunder. Pelaporan disusun secara berkala (Bulanan, Triwulanan, dan Tahunan) serta mencakup parameter pertumbuhan tanaman, rendemen minyak, kualitas briket, audit keuangan koperasi, dan dampak kesejahteraan petani peserta.

XXI. PENUTUP

Program Pengembangan Kakao Rakyat Terintegrasi Nilam dan Hilirisasi Berbasis Koperasi ini merupakan langkah nyata dalam membangun model agribisnis lahan kering yang modern, bernilai tambah tinggi, dan ramah lingkungan di Kabupaten Bandung.

Keunggulan utama program ini terletak pada kolaborasi yang solid: EnviGo mengorkestrasi ekosistem koperasi, TPST menyediakan nutrisi tanah berbasis sampah organik, PT Cipta Visi Sinar Kencana menyediakan dukungan penuh teknologi permesinan (pengering, pencacah, distilasi, mixer, dan ekstruder), serta mitra pengolah & offtaker menjamin penyerapan produk di pasar.

“Dari lahan kering menjadi kebun kakao dan nilam produktif.
Dari sampah organik menjadi nutrisi pembenah tanah.
Dari nilam mentah menjadi minyak bermutu tinggi.
Dari ampas distilasi menjadi arang bio, briket, dan aromaterapi.
Dari kekuatan koperasi menciptakan kemandirian ekonomi rakyat.”

Atas perhatian, kesempatan, dan dukungan yang diberikan oleh Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP), kami menyampaikan terima kasih.

Daftar Dokumen Lampiran Pendukung Proposal:

  • Profil Legalitas EnviGo SKD
  • Profil Koperasi Primer & KDMP
  • Daftar Petani & Maps Lahan 56,10 Ha
  • Hasil Uji Laboratorium Sampel Tanah
  • Profil TPST EnviGo & Uji Pupuk Nano
  • Profil PT Cipta Visi Sinar Kencana
  • Spesifikasi Teknik Mesin Distilasi & Ekstruder
  • Surat Minat / MoU Mitra Offtaker
  • Rincian RAB & Proyeksi Finansial
  • SOP Budidaya & Pengolahan Residu
Keranjang Belanja
Scroll to Top